Tegursapa Masyarakat Batak di Angkola dan Mandailing
A. Pendahuluan
Dalam masyarakat Batak, baik yang masih berdiam di Kampung Halaman maupun yang telah berada di tanah perantauan, generasi mendapat perhatian istimewa dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang Batak memperhatikan dengan baik siapa yang segenerasi dengan diriya dalam lingkungan kahanggi (keluarga semarga) maupun dalam kekerabatan Dalihan Na Tolu (keluarga besar); begitu pula dengan orang tuanya, tidak terkecuali dengan kakeknya (ompungnya), dan seterusnya keatas.
Demikian pula sebaliknya, siapa yang berada dibawah dirinya dalam generasi; demikian pula dengan anaknya, dengan cucunya, dalam kekerabatan semarga maupun Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga). Dan terhadap yang satu ini, “generasi”, masyarakat Batak menaruh perhatian yang istimewa, karena inilah satu-satunya jalan bagi mereka untuk bersopan-santun antara seseorang dengan lainnya, sangat tinggi nilainya dalam Adat Batak, guna merekatkan hubungan kekerabatan dalam kehidupan bermasyarakat, dekat dan jauh, dari kampung halaman hingga tanah perantauan.
Adapun alat yang digunakan oleh suku-bangsa Batak untuk bernavigasi dalam lautan kekerabatan keluarga hingga ke tingkat Ompu Parsadaan (Leluhur Pemersatu) yang pernah berada di Bona Bulu diwaktu yang silam, ialah "tarombo" (Batak) atau "silsilah" (Indonesia), "genealogy" (Inggris), baik lisan maupun tulis yang dimiliki sesuatu marga, maupun kelompok marga, yang telah menjalani sejarah panjang dan masih tetap terjaga baik.
Tarombo, baik lisan maupun tulis dikatakan terpelihara baik, apabila senantiasa disem-purnakan oleh kahanggi yang empunya marga dan kelompok marga-marga Dalihan Na Tolu dalam perjalanan waktu, lewat pemberdayaan Sumber Daya Manusia atau SDM kahanggi.
Tegursapa, atau partuturon dalam bahasa Batak, dengan demikian lahir sebagai cara generasi penerus menghargai para pendahulu, begitu juga peran yang dimainkan akhir ini, dan telah menjadi jalan bagi generasi penerus datang ke dunia di alam fana ini, sehingga sapaan kepada “na parjolo adong" (yang lebih dahulu ada)” oleh “na parpudi ro" (yang datang kemudian) perlu diatur oleh Adat Batak.
Selain untuk menghargai jerih payah yang diberikan generasi pendahulu, tegur sapa juga bertugas untuk menyampaikan rasa terimakasih kepada generasi yang menyiapkan, baik: tondi (jiwa/semangat/kharisma), dan roha (akal/budi), hingga pamatang (jasmani) generasi penerus, sehingga yang akhir ini mampu meneruskan kehidupan marga sebagai bagian dari kekerabatan Dalihan Na Tolu kedepan, untuk menjaga persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat agar selalu terpelihara baik.
A. Bagan Tutur atau Tegursapa.
B. Keterangan Pertuturan
Lambang Tutur:
- Laki-laki : bujursangkar
- Perempuan : lingkaran
- Perkawinan : “
”
- Keturunan : “
”
- Arah tegur-sapa, atau arah sapaan : ← →
- > lebih tua, < lebih muda
C. Aturan Bertegursapa
1. Sapaan mereka yang segenerasi di generasi pertama.
A ← B Angkang (A>B); A → B Anggi (A>B)
A, B ← C Iboto, atau Ito A, B → C Iboto, atau Ito
2. Sapaan generasi pertama kepada generasi kedua, dan sebaliknya.
G ← A, B, C Amang G → A, B Amang; G → C Inang
I ← A, B, C Inang I → A, B Amang; I → C Inang
F > G ← A, B, C Amang Tua, istrinya Inang Tua; F dan istrinya → A, B, C sebagaimana G dan I.
F < G ← A,B,C Amang Uda, atau Uda; istrinya Inang Uda, atau Nanguda.
A, B ← E Amang Naposo ; C ← E Parumaen; A, B, C → E Namboru
A, B ← D Tulang Naposo; C ← D Parumaen; A, B, C → D Amang Boru
A, B, C ← J, H Babere, atau Bere; A, B, C → J, H Tulang
A, B, C ← K Babere, atau Bere; A, B, C → K Nantulang.
3. Sapaan generasi pertama kepada generasi ketiga, dan sebaliknya.
A, B, C ← L, N Ompung, atau Anggi; A, B, C → L, N Ompung.
A, B, C ← M, O Ompung, atau Anggi; A, B, C → M, O Ompung.
4. Sapaan generasi pertama kepada generasi keempat, dan sebaliknya
Laki-laki ← A, B, C Amang Tobang Laki-laki → A, B, C, F, G Amang
Perempuan ← A, B, C Inang Tobang Perempuan → A, B, C Inang.
5. Sapaan mereka yang segenerasi di generasi kedua.
D ← F, G Ipar D → F, G Tunggane, atau Lae
H, J ← F, G Tunggane, atau Lae H, J → F, G Ipar
I ← F Anggi (F > G) I → F Angkang (F > G)
I ← F Angkang (G < F) I → F Anggi (G < F)
E ← F, G Iboto, atau Ito E → F, G Iboto, atau Ito
H, J ← I Iboto, atau Ito H, J → I Iboto, atau Ito
E ← I Eda E → I Eda
I ← K Eda I → K Eda
G ← K Ompung Bayo G → K Ompung Dongan
D ← I Ompung Bayo D → I Ompung Dongan
6. Sapaan generasi kedua kepada generasi ketiga, dan sebaliknya
E, F, G → L dan M sebagaimana A, B, C → G dan I, menyapa Amang dan Inang.
H, I, J → N dan O sebagaimana A, B, C → G dan I, menyapa Amang dan Inang.
N → G Babere, atau Bere N ← G Tulang
O → G Babere, atau Bere O ← G Nantulang.
L → D Babere, atau Bere L ← D Tulang
M → D Babere, atau Bere M ← D Nantulang.
Catatan:1.
Adapun landasan bertegursapa dalam Adat Batak sederhana sekali, yakni:
Au (Saya) – Amang (Ayah) – Ompung (Kakek) = Au (Saya). Artinya: Saya – Ayah – Kakek, dan kembali lagi Saya.
Karena saya adalah juga kakek, dan ia lebih tua dari saya, maka saya menyapanya (memanggilnya) Angkang (Abang). Sebaliknya ia menyapa saya Anggi (Adik).
Mulai dari Ompung keatas berlaku ulangan kata Amang dan Ompung. Contoh: Amang Tobang, Ompung Tobang, Amang Ompung Tobang, Ompung-ompung Tobang dan seterusnya.
2. D menyapa tulang kepada L dan nantulang kepada M, karena ia menikah dengan putri mereka sebagaimana yang diatur Adat Batak. Akan tetapi A, B, C menyapa tulang kepada J dan nantulang kepada K, karena J adalah saudara kandung ibu mereka. Dengan perkataan lain, seorang laki-laki suku bangsa Batak yang menikah dengan putri sesuatu keluarga Batak, sesuai Adat Batak, akan menjadikan ayah sang putri saudara kandung ibunya. Hal yang sama berlaku pula untuk seorang laki-laki bukan suku bangsa Batak yang menikah dengan perempuan suku bangsa Batak.
3. K menyapa amangboru kepada N dan namboru kapada O, karena ia menikah dengan putra mereka sebagaimana yang diatur Adat Batak. Akan tetapi A, B, C menyapa amangboru kepada D dan namboru kepada E, karena E adalah saudara kandung ayah mereka. Dengan perkataan lain, seorang perempuan suku bangsa Batak yang menikah dengan putra sesuatu keluarga suku bangsa Batak akan menjadikan ibunda suaminya (ibu mertuaya) menjadi saudara kandung ayahnya. Hal yang sama berlaku pula untuk seorang perempuan yang bukan suku bangsa Batak yang dinikahi oleh laki-laki suku bangsa Batak.
4. Keluarga Besar Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga).
a. Kelompok I adalah kahanggi : L, M, F, G, I, A, B, C.
b. Kelompok II disebut anak boru : D, E.
c. Kelompok III dinamakan mora : N, O, H, J, K.
d. Sejumlah nama Batak dan berbagai gelar digunakan :
A. Batara Harahap (anak).
B. Binanga Harahap (anak).
C. Tiurma Harahap (boru).
D. Pardomuan Pulungan.
E. Ninggor Harahap, gelar Namora Bulan.
F. Gindo Harahap, gelar Baginda Parbatasan.
G. Oloan Harahap, gelar Baginda Pardamean.
H. Sati Nasution, gelar Sutan Parlaungan.
I. Taing Nasution, gelar Namora Oloan.
J. Borotan Nasution, gelar Baginda Hasudungan.
K. Tidour Lubis, gelar Namora Parlagutan.
L. Gunung Harahap, gelar Mangaraja Guna, Ompu ni Barita.
M. Limbayung Siregar, gelar Namora Soritaon, Ompu ni Barita.
N. Todung Nasution, gelar Baginda Namora, Ompu ni Masnida.
O. Gondoiman Ritonga, gelar Naduma Oloan, Ompu ni Masnida.
5. Berbagai istilah tutur dalam Adat Batak.
Rajananmi atau Janami, ialah sebutan anakboru kepada moranya.
Na mora na toras, ialah kahanggi dari Raja pendiri huta/kampung.
Kahanggi hombar suhut, ialah mereka yang tulang mereka berpareban
Tulang, ialah saudara laki-laki ibu
Nantulang, ialah istri tulang.
Namboru, ialah saudara perempuan ayah.
Amangboru, ialah suami namboru.
Ipar, ialah sapaan seorang laki-laki kepada suami saudara perempuannya, atau ibotonya.
Tunggane/Lae, ialah sapaan seorang laki-laki kepada saudara laki-laki istrinya, atau ibotonya
Pareban, ialah sapaan seorang laki-laki kepada laki-laki lain yang istri mereka bersaudara atau seayah/seibu.
Ompung Bayo, ialah istri tunggane, atau lae.
Bayo, ialah istri dari adik kandung sendiri.
Babere, ialah anak laki-laki dari saudara perempuan, atau iboto.
Parumaen atau maen, ialah anak perempuan tunggane, atau lae.
Tulang na Poso, ialah anak laki-laki tunggane.
Pisang Raut, ialah boru dari saudara perempuan, atau iboto.
Rompak tutur, ialah anak laki-laki yang menikah dengan anak gadis dari anakborunya.
Babere Pisang Raut, ialah anak laki-laki dari anakborunya.
Pareban Pamore, ialah anak laki-laki dari kahanggi sepengambilan, atau hombar suhut.
- selesai -
Jakarta, 22 Nopember 2003
H.M.Rusli Harahap
Jalan Batu Pancawarna I/2A
Pulomas, Jakarta 13210
No comments:
Post a Comment